LDC Loader

LDC Presisi-kan Kelompok Belajar EEP

Language Development Center (LDC) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) selenggarakan tiga tahapan English Placement Test dalam jaringan pada tanggal 29 Agustus 2020 (Batch 1), 21 September 2020 (Batch 2) dan 22-28 September 2020 (Batch Khusus). Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai upaya LDC dalam meningkatkan standar pengelompokkan mahasiswa baru UMP dalam Program Pengayaan Bahasa Inggris setara Diploma 1 (English Enrichment Program/EEP). Program ini mengadopsi kurikulum CEFR (Common European Framework of Reference). Implementasi penerapan kurikulum berbasis CEFR ini adalah Placement Test untuk menempatkan peserta belajar agar tepat pada level kompetensinya. Tes daring ini diikuti oleh semua mahasiswa baru UMP Program S1 dan D4 selain Program Studi Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris.  


Placement test ini diikuti oleh 873 peserta (Batch 1), 1388 peserta (Batch 2) dan 134 peserta pada batch khusus. Total terdapat 2395 peserta pada tes daring tersebut. Selanjutnya, peserta tes memulai proses belajar sesuai dengan level yang diperolehnya. Terdapat tiga kelommpok entri level yang diperoleh peserta yaitu kelompok tingkat Starter yang setara dengan level A1 (Basic User) pada CEFR, tingkat Elementary yang setara dengan level A2 (Basic User) pada CEFR dan kelompok tingkat Pre-intermediate yang setara dengan level B1 (Independent User) pada CEFR. Presentase mahasiswa baru yang ditempatkan pada level Starter adalah 84.92%, level Elementary sebanyak 11.27% dan level Pre-intermediate sebanyak 3.79%.

Ketua Pelaksana English Placement Test LDC 2020 yang juga Kordinator Program Pengayaan Bahasa Inggris setara D1 di UMP, Bustanuddin As Suaidy, S.S., M.A. mengatakan bahwa presisi pengelompokkan belajar menjadi salah satu kunci penting dalam tercapainya target pembelajaran program pengayaan bahasa Inggris ini. Perbedaan tingkat kemampuan bahasa Inggris pada satu kelompok belajar dapat menjadi gap antara “si pintar” dan mahasiswa dengan level kemampuan bahasa Inggris yang biasa-biasa saja atau rendah. Ritme proses belajar akan lebih lancar apabila sebuah kelompok belajar berisi peserta didik dengan level kemampuan yang se-level. (Suaidy)

Share Now:

Facebook
Twitter
LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post